Seberapa Jauh Manusia Harus Berjalan Untuk Bisa Disebut Sebagai Manusia?
Mandira , maafkan aku karena kali ini aku tidak ingin menemui secara langsung---meski sebenarnya banyak sekali yang ingin aku bicarakan dan kita diskusikan. Belakangan ini, ada sesuatu yang membuatku begitu resah. Entah mengapa belakangan ini banyak sekali orang- orang yang dengan mudahnya mengatakan dosa,sesat,neraka,kafir,sambil menunjuk hidung kita yang seolah- seolah manusia paling bangsat di dunia. Lalu , benarkah mereka manusia yang paling suci dan kita adalah manusia yang paling berdosa? Benarkah mereka pembela agama dan wakil Tuhan didunia? Aku tak bisa menjaminnya,mandira. Tetapi entah mengapa nuraniku mengatakan tidak. Melihat mereka,ada sesuatu yang ter-usik di dalam diriku.
Mandira,ini lah surat ku. Tegakkanlah punggungmu dan bacalah baik-baik, barangkali kau bisa minum terlebih dahulu karena aku akan menuliskan catatan yang cukup panjang untuk kita diskusikan. Ini tentang mengatakan pada mereka yang berkedok pembela agama,ulama,atau kyai bahwasanya agama bukanlah khotbah-khotbah panjang yang bikin ngantuk---bukan pula upaya-upaya picik melemahkan orang lain,mengkafirkan orang lain,menyalahkan orang lain,dengan serangkaian tindakan yang penuh dengan arogansi dan kebencian.
Aku tak terlalu mengeti soal agama,Mandira, tetapi bukankah agama adalah soal membangunkan kemanusiaan yang tertidur dan membebaskannya menjadi tindakan yang menghidupkan? Kita bisa berdebat panjang soal ini, Mandira. Tapi sudahlah,bukan itu yang penting. Kau bole setuju atau tidak. Sekarang biarkan dulu aku yang bercerita.
****************
Mandira yang baik,aku akan bercerita tentang sebuah kampung bernama Kali Bokong. Sebuah kampung yang unik,mudah-mudahan ia bisa membantuku menjelaskan mengapa agama adalah soal membangunkan rasa kemanusiaan yang tertidur dan membebaskannya menjadi tindakan tindakan yang menghidupkan---bukan semata-mata ritual-ritual yang berbau formalitas atau khotbah-khotbah panjang yang bikin ngantuk itu! Menurutku, mandira, percuma saja kau beribadah siang-malam jungkir-balik menyembah Tuhan mu kalau kau tetap tega membiarkan penindasan dan kemiskinan secara merajalela di sekelilingmu. Percuma saja kau tahajud setiap malam berdo’a membanjiri sajadah dengan air mata sinetron mu sementara tetangga-kiri kanan rumahmu sedang kelaparan dan terpaksa ber-dosa untuk menyambung nafas mereka---dengan mencuri atau merampok, misalnya.
Maka, mandira, tinggalkan lah agama mu jika kau begitu egois untuk menumpuk pahala dan mengejar-ngejar surga bagi dirimu sendiri !
Mandira yang baik,maafkan bila suratku kali ini terbaca begitu emosional. Aku memang sedang marah menghadapi realitas kemanusiaan kita yang kian rapuh ini. Aku pikir,yang terjadi di tengah-tengah kita saat ini bukanlah siapa yang benar dan siapa yang salah---tetapi siapa yang memonopoli kebenaran dan siapa yang tereus menerus di buat salah. Bukan siapa yang baik dan siapa yang penuh dosa—tetapi siapa yang berusaha mengklaim kebaikan-kebaikan secara curang dan egois dan siapa yang terus-menerus di tenggelamkan dalam lumpur ke-dosa-aan. Ah , mandira izinkalah aku menceritakan semuanya melalui perspektif Kali Bokong.
Sebutlah nama desa itu kali bokong,sebuah perkampungan nelayan tradisional di daerah utara jawa yang mulai tergerus laju modernitas. Secara demografis,masyarakat bokong terbagi ke dalam dua kelas masyarakat yang berbeda; daerah selatan kali bokong merupakan kompleks perumahan elit yang di huni masyarakat kelas menengah-atas,sementara daerah utara merupakan daerah pemukimam kumuh para nelayan yang miskin. Kedua daerah itu dipisahkan oleh sebuah sungai kecil atau yang biasa di sebut Kali. Yang karena banyak dari penghuni pemukimam nelayan tersebut terbiasa mandi di sana dan kelihatan bokongnya,maka kampung ini dikenal sebagai kampung Kali Bokong. Sebuah Kali eksotis yang kalau kau iseng nongkrong dipinggirnya akan mendapatkan sajian bokong gratis dari mulai ABG sampai nenek-nenek !
Mandira yang manis,disinilah ironi kali bokong baru bisa kita baca segmentasi utara-selatan yang sekaligus juga mencerminkan perbedaan kelas sosial miskin-kaya,ternyata juga menunjukkan pola dan kultur ke agamaan yang berbeda. Masyarakat dari komplek perumahan elit rajin berjama’ah di masjid sekaligus rutin menghadiri pengajian meningguan,sementara masyarakat nelayan yang miskin jangan shalat berjamaa’ah di masjid sedangkan shalat pun mereka tak! Saat remaja-remaja komplek menggelar kegiatan ke agamaan,remaja – remaja anak nelayan malah sibuk menimbang ikan dan sesekali memasang taruhan kecil di pertandingan sepak bola.
Tentunya tidak mengherankan, Mandira. Itulah sebab nya pak ustads seringkali mengutuk mereka sebagi orang yang miskin di dunia dan menderita di akhirat. “kadza al-faqru an yakunna kufarn”,. Pekik pak ustads itu,” sesungguhnya ke-fakir-an itu memang dekat dengan ke-kufur-an---dan itu sangat dekat dengan neraka” sambung pak ustads ber-api – api. “ bukankah mereka yang selama ini merusak citra kampung kita pak ustads?seseroang bertanya dalam acara pengajian. “merekalah yang dngan bebas mengumbar aurat setiap sore saat mandi di tepian kali,dengan bokong kemana – mana!” Para hadirin terkekeh. Cuih ! sungguh merusak tatanan moral ! kata pak ustads sambil menggeleng – gelengkan kepalanya. Para hadirin turut jua menggelengkan kepala. Cerca dan maki membrudal dari mulut mereka. Bukan kah mereka pantas masuk neraka pak ustads? Seseorang tak sabar untuk menghakimi. “Betul” kata pak ustads,sembari mengutip ayat – ayat yang panjang,dalil – dalil yang panjang, “ merekalah yang dilaknat dan apntas masuk neraka! Sambungnya.
PAUSE . sampai disini,cerna dulu cerita ku,Mandira. Tarik nafas,dan pikirkan baik – baik apa yang sudah aku ceritakan. Lalu , kalau pertanyaan yang sama ku ajukan kepadamu. “Benarkah para nelayan miskin dan kelurga nya ini merupakan pendosa yang pantas masuk neraka? Kira – kira apa jawabmu,Mandira yang manis.?
***
Akan tetapi sebelum engkau terburu – buru memberikan jawaban,mandira mari terlebih dahulu kita lanjutkan cerita nya ;
Mandira yang baik, asal kamu tau, kemiskinan yang mereka derita mau tidak mau memaksakan mereka untuk bekerja siang – malam (dan karena mereka ini nelayan,sudah tentu saja mereka ngantor di tengah lautan) sehingga mereka sulit sekali untuk meng-akses masjid dan melakukan shalat apalagi berjama’aah—namun disaat yang bersamaan,mereka tidak memiiliki pemahaman agama yang cukup memadai. Apalagi kemampuan itijihad, fiqhyah untuk men-jama’ shalatnya untuk melakukan shalat di lepas pantai.
ini semacam kutukan yang berat ; sudah miskin,nggak ngerti lagi.
Pertanyaan nya, kalau begini (si) apa kah yang salah?
Kemiskinan dan ketidak mengetian mereka ?!
atau jangan – jangan mereka yang kaya dan berkecukupan terus – menerus memelihara kemiskinan dan ketidak-ngertian mereka?
Bukan kah para nelayan miskin ini nggak tau cara nya bagaimana bisa kaya sekaligus pandai ?
kalau mereka tau cara nya,dan kalau mereka bisa memilih, tentu saja mereka tidak akan memilih untuk miskin dan bodoh,bukan ? menjadi miskin dan bodoh itu menyakitkan,Mandira.--
Sementara itu,para istri dan keluarga nelayan – nelayan miskin ini pun mesti berjuang mati – matian mendirikan tiang – tiang kehidupan mereka yang rapuh!
Kenyataan nya,setiap kali jadwal pengajian tiba, selalu bertepatan dengan tugas mereka menggarami atau menjemur ikan—yang apabila tidak mereka kerjakan, bagaimana lagi cara nya untuk melanjutkan hidup?
Nah , sampai disini, jadi ini salah ibu – ibu yang ikut pengajian atau pak ustads yang bikin jadwal pengajian? Barangkali mandira, inilah yang dikeluhkan jefferey lang dalam sebuah bukunya “ AKU BER IMAN,MAKA AKU BER TANYA” bahwa dalam kondisi - kondisi berat ( seperti kemiskinan,kebodohan,dan ketertindasan) sulit sekali untuk menjalankan agama yang di kunci oleh rigiditas – rigiditas fiqh.
Misalnya soal mereka yang terbiasa mandi di kali dan terlihat bokong nya, kita segera tau jawaban nya bahwa jangankan kamar mandi pribadi sedangkan rumah yang layak untuk mereka tempati saja,tidak punya ! jadi, kalau mereka mandi di kali dan kelihatan auratnya,sebenarnya itu bukan 100% kesalahan mereka dong,toh ternyata mereka tidak punya pilihan lain,bukan?
***
Mandira , sampai disini barangkali suratku ini memang akan terbaca sebagai kritik yang nyinyir. Atau setidaknya kemarahan yang Naif. Setidaknya sampai kita membaca realitas oposisional nya. Di pemukiman masyarakat menengah dan kaya di kali bokong kita akan melihat pemandangan yang benar – benar kontras dengan apa yang tadi kita bicarakan tentang kehidupan kau nelayan ;
1. Masjid yang berdiiri megah menghambiskan dana yang hampir menembus bilangan miliar hasil sumbangan warga,
2. Koperasi yang dikelola oleh pejabat desa yang justru ber orientasi pada pengembangan ekonomi yang sama sekali tak menyentuh para nelayan—alih – alih merumuskan skema ekonomi yang bisa meringankan kehiidupan para nelayan,mereka malah sibuk arisan mobil atau arisan umroh,
3. Masyarakat yang menyelesaikan makan siang dan malam nya dengan perut kenyang dan berpiring – piring makanan sisa,berbelanja tiap akhir pekan,dan merayakan pesta ulang tahun anak mereka yang masih balita dengan biaya puluhan juta rupiah,
4. Ustadz yang memiliki rumah megah,mobil mewah,harta berlimpah serta istri di sana sini dan dengan se enak nya menunjuk hidung mereka yang (di) miskin (kan) sebagai kaum yang tak pandai bersyukur dan lebih dekat pada kekufuran, juga
5. Tentunya pejabat – pejabat kaya yang tak pernah mau mengerti dab menyadari bahwa keimanan tidak semata- mata di ukur dengan kemampuan menjalankan ibadah dengan harta yang berlimpah !
Tapi mandira,bukankah mereka ini yang diam – diam sepakat untuk memelihara (jurang) kemiskinan dan membuat para nelayan terus – menerus berdosa? Kalau para nelayan patas masuk neraka,bukankah mereka ini telah menjerumuskannya,mandira ?
ENTAHLAH !
Berawal dari sinilah, Mandira, barangkali pertanyaan abdou filla-anshari sangat relevan dalam konteks kali bokong?
“ Bukankah semua agama pada mulanya hadir untuk membela mereka yang tertindas?”
Jadi, kalau agama di jadikan sebagai instrumen pendukung untuk melanggengkan kekayaan dan kekuasaan dan memilihara kemiskinan dan kebodohan,dengan iming – iming pahala – surga dan ancaman dosa mereka, siapakah yang sebenarnya pantas masuk neraka?
Pertanyaan ini mungkin menjadi sulit untuk dijawab sebab kali bokong ini memang benar – benar menyajikan medan tafsir yang liar, Mandira.
Tapi setidaknya sampai kita yakin dan percaya bagwa agama memang sangat membenci kelompoj yang melakukan kerja – kerja sistematis untuk membuat orang – orang miskin,lemah dan tertindas agar tetap miskin dan teraniaya—sekali pun mereka rajin beribadah!
Sebagaimana yang bisa kita baca dalaam al-qura’an surat al-ma’un ayat 1 – 7. Aku bukan berusaha kelihatan agamis dengan mengutip ayat – ayat dari kitab suci, Mandira—tetapi ini penting untuk dipahami ; أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ ﴿٦﴾ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ﴿٧
﴾Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.(Qs.al-maun 1- 7 ).
Meskipun surga dan neraka memang otoritas Tuhan sepenuhnya untuk menentukan, dengan menjadikan Al – maun sebagai ideal moral, setidaknya kita bisa tahu dan , mengerti bahwa Tuhan lebih membenci mereka yang shalat tetapi mengabaikan fungsi sosialnya untuk menyelamatkan kaum miskin dan tertindas ( diwakili oleh personifikasi anak yatim ) dan jurang kemiskinan , kebodohan, dan ketertindasan yang melilit mereka. Bahkan Tuhan menggolongkan mereka kedalam kelompok yang mendustakan agama ( ayat 1 ) dan mereka itu lah yang celaka ( ayat 5 ) sebab tidak mengaktualisasikan dan mentransformasikan shalat mereka ke dalam tindakan – tindakan dan berpihak pada keadilan sosial.
Ah, mandira,sebenarnya aku tak betul – betul mengeti dengan semua ini. Terlepas dari setuju atau tidak , Kali bokong ada;ah potret yang mengajarkan kita untuk melihat masalah – masalah dan tantangan ke agamaan yang dewasa ini jauh lebih kompleks mandira.
Agama bukan semata – mata hitam dan putih yang melulu pahala dan dosa,halal dan haram; Agama adalah risalah yang diturunkan Tuhan kepada para Rasul dan Nabi dalam rangka mewujudkan kemashalatan kehidupan dunia dan akhirat! Tak Tertolak !
Mandira yang baik,maafkan jika surat kali ini membuat mu mengerutkan dahi. Tapi , ini lah keresahanku. Sebelum akhiri surat ini, ada baiknya kau melihat kali bokong dalam spektrum dan kenyataan yang lebih luas , inilah sekarang yang terjadi di seluruh dunia.
Perbaikan pendidikan – dasar untuk semua di negara – negara berkembang memerlukan dana sebesar $6 miliar per tahun, jumlah yang sangat terbatas apabila dibandingkan $8 miliiar dana yang d habis kan untuk belanja kosmetik di AS saja. Instalasi air dan anitasi di negara – negara berkembang memerlukan dana sebesar $9 milliar sedangkan konsumsi es krim menghabiskan dana sebesar $11 milliar di eropa saja. Pemeliharaan kesehatan dan nutrisi $13 millliar sementara $ 17 milliar di habiskan untuk membeli makanan hewan peliharaan ( kucing dan anjing ) di eropa dan As saja.
Mandira , masalahnya jika hewan di negara – negara maju memperoleh perlakuan dan uang yang lebih banyak dari pada sebagian umat manusia di seluruh dunia, pasti ada yang salah dengan rasa kemanusiaan kita !
demikian juga apabila kemiskinan dunia memilukan sudah begitu luas, sementara lebih dari $35 miliar di habiskan untuk bisnis hiburan di jepang atau $105 miliar untuk komsumsi alkohol di eropa, pasti ada yang salah dengan semua ini, Apakah kita semua masih manusia, Mandira?
Benar rasa nya lirik sebuah lagu, Save Our Soul ( S.O.S ) . lagu itu menurutku,bukan hanya mempersoalkan ketidakadilan sosial di tengah – tengah kita,tetapi juga absen nya nurani dan kepekaan jiwa dari kehidupan masing – masing kita . Kita semua,mandira kau dan aku,mau tak mau harujs bergerak untuk menghentikan semua ini. Kita harus mengubah dunia yang salah. Meski tampak naif,setidaknya bisa kita mulai dengan bersikap adil pada diri sendiri,berkasih sayang dan bertolong – menolong pada sesama ---- menyelamaykan rasa kemanusiaan yang tersisa!
Mandira ,kita ber-agama tetapi pikiran dan perilaku kita bergitu picik dan penuh kecurangan. Bagaimana mungkin agama yang kita anut tidak memiliki pengaruh apapun pada perilaku sosial kita sehari – hari ?
bagaimana kita bisa sedemikian tenang melihat kesmikinan, kelaparan , dan penderitaan dimana – mana ?
bagaimana bisa kita tenang – tenang saja mendapati tetangga lota menangis kelaparan, saudara – saudara kita menderita dalam jeratan kemiskinan?! Ahhhhhrrrr.
Mandira, agama seharusnya bisa membangun kan kita yang tertidur dan membebaskan nya menjadi tindakan yang “ menghidupkan”.
Agama adalah soal memberi kemashalatan bagi semua,menjadi rahmat dan penyebar kasih sayang seluruh semesta – tak tertolak !
Barangkali kita bisa memulai semuanya dari diri kita masing – masing , Mandira – Tidak jauh dari rumahmu yang megah,lebih dari 40 keluarga miskin yang hidup serba kekurangan.
Di ujung jalan pusat perbelanjaan tempatmu menghabiskan puluhan lembar uang seratus ribuan,seorang nenek tengah mengemis uang recehan.
Beberapa blok dari restoran tempat mu makan enak,balita yang kelaparan menunggu ayahnya seorang pengamen membawakan nasi bungkus sisa makan siang,
DIDEPAN UNIVERSITAS KEBANGGAAN,UNIVERSITAS YANG MEGAH TEMPATMU MENGANTUK DAN MENGBROL PULUHAN ANAK JALANAN MENDAMBAKAN PENDIDIKAN LAYAK YANG TELAH LAMA TERPAKSA MEREKA TINGGALKAN.
Sederhana saja mandira, jika kau membantu satu saja orang yang paling membutuhkan di dekat mu, aku yakin kemiskinan yang membunuh dan ketidak adilan yang menyakitkan ini akan sedikit demi sedikit berkurang dan teratasi.
Aku yakin kita bisa memberikan andil penting, yang meskipun kecil bagi terwujudnya keadilan sosial dan tegaknya rasa kemanusiaan.
Wake up everyone, Cause now it’s time to face the revolution! Save our soul.. we need a new world!
Save our soul..
we ready for changes!
Save our soul..
prepare yourself for Revolution!
Inilah saatya untuk berubah, Mandira. Inilah saatnya untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya. Bangunlah bergeraklah dan mulailah melakukan perubahan!
Jadi, Seberapa jauh manusia harus berjalan untuk bisa di sebut sebagai manusia, Mandiria ?
Teruslah berjalan, Mandira, maka akan kau temui disana anak – anak yang menangis, orang – orang yang tertindas dan di lemahkan, kemiskinan yang menyakitkan dan membunuh, serta rasa sakit yang melilit.
Disanalah jiwa dan nurani kita terpanggil,membisikkan suara – suara untuk melakukan tindakan penyelamatan,memberi kemashalatan bagi sesama, menjadi rahmat dan penyebar kasih sayang bagi seluruh semesta.
Saat itu lah kau akan mendapatkan nubuat sebagai khalifah, wakil tuhan di muka bumi !
WAKE UP EVERYONE CAUSE NOW IT’S TIME TO FACE THE REVOLUTION !
Fahd djibran,hidup berawal dari mimpi,hal 161-179.
